Tag Archives: family

Promise

22 Jul

Hey everyone.. happy-happy morning. The weather is perfect in my lovely town Jakarta. And you know what?? Today is my mother 45th birthday.. ^__^ Yey… So, this day supposed to be a beautiful day.. πŸ™‚ πŸ™‚

Today i woke up at 5.00 o’clock in the morning. I want to greet my mom as soon as i can. Hehe. I remember, when i was in junior high school, i said happy birthyday to Β my mom at 8 o’clock in the morning after church and you know what?? She angry at me and to the whole family.. haha.. From that time until now, i promise that i will greet her as soon as i can in the morning. Hehe..

I’ve prepared some presents for her.. 2 leather bags of Guess.. Hohoho.. I love those bags. And i really hope she loves it too.. Right now, she is going somewhere with my little sister. And when i came to her room earlier, i saw that those bags lay in her bed. And it looks like that she was trying it earlier.. Yippe. Mission accomplished. Β hehe.. hopes you like it mom. Its not about the price. Its just that i want to do something that can make you happy. πŸ™‚ πŸ™‚

Just watch me 5 years from now.. I will make you more happy than right now.. okay.. Promise.. ^___^

Happy Birthday.. πŸ™‚ πŸ™‚

love, mollyjoo…

Like This!

A memoar of my GrandPa

12 Jul

Bahasa Inggris saya sedang mampat sampai ke ubun-ubun. Jadi, sedang ingin berbicara dalam bahasa indonesia saja. Lagipula, saya takut, kalau mengungkapkan cerita ini dalam bahasa inggris, inti dari cerita yang ingin saya sampaikan, malah tidak tersampaikan.

Kakek saya A.J. Panjaitan, dipanggil Tuhan awal akhir Juni yang lalu. Dia lahir 10 Juli 1928 dan pergi 29 Juni 2010. Selama hidupnya, kata mama saya, dia orang yang sangat sederhana, disiplin, dan pendidik yang hebat bagi anak-anaknya. Anaknya ada 9. Pekerjaannya dulu, katanya cuma seorang supir bemo. Berapalah upah seorang supir bemo, dibandingkan beban untuk menghidupi 9 orang anak dan seorang istri. Wow, membayangkannya saja saya tidak sanggup. No.no.no. Kata mama saya, kakek saya ini orang yang cukup keras. Jika dia melihat sesuatu yang salah, dia tidak akan menunda untuk menegur dengan keras, terutama kepada anak-anaknya. Tetapi ketika ia puas melihat hasil kerja anaknya, dia tidak sungkan untuk mengatakan dia bangga kepada anaknya, namun tidak berlebihan sehingga membuat si anak menjadi sombong. Satu hal juga yang saya ketahui tentang kakek saya ini. Dia murah hati.

Di tengah segala keterbatasan yang ia miliki, ia tetap dapat membantu orang lain. Saudara-saudaranya, sepupu-sepupunya, untuk menjadi sukses. Ia dan keluarganya dulu tinggal di medan. Saudara-saudaranya yang berasal dari kampung, sebelum merantau ke jakarta, pasti meminta bantuan darinya. Baik tinggal sebentar bahkan lama dirumahnya, atau meminta perbekalan dari dirinya dan lain-lain. Apapun itu, demi saudaranya, jika memang ia mampu untuk memberikannya, ia pasti memberinya. Dan lihat hasilnya sekarang. Orang-orang yang dulu ia bantu, sudah menjadi beberapa orang sukses di indonesia ini. Ada yang punya sekolah di beberapa kota, ada yang menjadi menteri, ada yang punya bisnis di sana sini. Tapi kakek saya, apa dia minta bagian untuknya? Tidak sama sekali. Itu dia lakukan dengan ikhlas pada masanya. Yang ada, orang-orang tersebut yang datang dengan otomatis untuk membantu apapun itu untuk membalas budinya ke kakek saya.

Sampai akhir hidupnya, dia adalah tetap sosok kakek yang berkharisma, yang tidak ada seorangpun yang bisa mengalahkan kharismanya. Setidaknya dalam keluarga saya ini.

Sebuah cerita sebelum ia pergi. Ia jatuh sakit, tepat seminggu sebelum pernikahan abang sepupu saya, atau sama dengan cucu kandung kakek saya ini. Masalahnya, sakitnya bukannya sepele. Dia sudah sulit bernafas, nafasnya satu dua satu dua. Semua keluarga sudah ketakutan dan gelisah. Bagaimana ini? Bagaimana bila kakek saya pergi sebelum pernikahan berlangsung? Tapi, pada dasarnya kami sudah pasrah. Jika melihat perjuangan kakek saya menahan sakitnya saat di rumah sakit, rasanya sedih sekali. Kami semua berdoa memohon kesembuhannya, atau setidaknya tahan sebentar sampai pernikahan abang kami ini selesai. Dan benar saja, sampai H-1 pernikahan abang saya, tidak ada perubahan dari kondisi kakek saya, tapi si dokter bilang bahwa waktunya kurang dari 12 jam lagi.

Buktinya, 12 jam lagi, kakek saya tetap bertahan. Dengan nafas satu duanya itu, ia tetap bertahan. Seperti ada yang ia tunggu, seperti ada kewajiban yang harus ia lakukan lebih dahulu. Dan benar saja. 25 jam setelah semua pesta pernikahan abang saya beres, ia pergi. Ketika ia dinyatakan benar telah pergi, yang saya tahu, betapa baiknya dan hebatnya kakek saya ini. Ia benar-benar menunggu sampai abang saya selesai menikah, baru ia pergi. Tuhan yang di atas juga begitu baik dan kasih kepada kami dan kakek saya ini. Ia mendengar doa kami, sehingga menunda pertemuannya dengan anaknya (kakek saya) sekitar 25 jam, agar kami bisa melangsungkan pernikahan abang kami. Dan sekarang Ia telah memanggil kakek saya untuk keluar dari penderitaannya dan dapat bertemu dengan nenek saya di sana.

Sekedar cerita tambahan, Bibi saya (kakaknya mama), 40 hari sebelum kakek saya meninggal, katanya bermimpi. Di mimpinya, kakek saya ini mengajak nenek saya (yang telah meninggal) untuk pergi ke pesta. Katanya”Ayo, kita ke pesta di sana.” Katanya sih, sambil tersenyum bahagia. Dari situ, sepertinya kakek saya bermaksud mengajak nenek saya untuk menghadiri pernikahan abang saya ini.

Wow kakek. You were so good and so great! Terima kasih telah menjadi kakek kami semua. Terima kasih Tuhan telah memanggilnya untuk bergabung dalam kerajaanMu. Doakan kami dan anak-anaknya agar dapat melanjutkan kehidupan ini dengan nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh kakek kami kepada kami, dan kami dapat memuliakan nama-Mu di dunia ini.

Love you Grandpa, hope u’re happy with grandma now in heaven..

with love,

mollyjoo